Kamis, 29 September 2011

Review Notes from Qatar

Surabaya,30 September 2011
Alhamdulillah, di hari jumat yang tentunya weekend yang cerah ini tepatnya,saya baru menyelesaikan bacaan saya, yang didapatkan dari salah seorang teman baik saya. Buku tersebut adalah ‘Notes from Qatar’. It’s awesome !! two thumbs up for this book,,HAmpir seminggu saya baru bisa menyelesaikan buku tersebut karena memang buku tersebut hanya sebagai penyelang saja di saat waktu senggang saya (jika lagi nganggur banget satu hari pun bisa selesai,,hehehe).
Terkesan banget sama Muhammad Assad atas bukunya dan tentunya cerita di dalamnya sangat fresh banget,sangat mendididk di sisis agama tetapi uniknya cerita selalu dikemas dengan gaya anak muda sehingga materi mudah diterima. Ada beberapa artikel yang membuat saya sangat kagum yaitu saat penulis cerita tentang hebatnya sedekah. Subhanallah,, sungguh membuat saya ingin menengok kembali apa yang telah saya lakukan hingga sekarang ini, apa saya sudah bisa bersedekah seperti dia. Hmm,,satu hal lain yang tidak kalah menarik, karena si penulis memang sempat stay di Qatar unutk melanjutkan studinya sehingga dia tahu sedikit banyak tentang Qatar, dan itu selalu disematkan fakta-fakta tentang Qatar di setiap bagian cerita, sehingga bisa menambah pengetahuan juga.
Hmm,, kalo boleh merekomendasikan untuk semua para anak muda yang ada di Indonesia untuk bercermin pada si penulis ini nih, sangat sangat sangat bagus untuk dicontoh mengenai prestasinya dan pemikirannya. Di tengah-tengah zaman sekarang kita telah ketahui banyak sekali perilaku anak muda yang telah melenceng, sebagai contohnya nih,,gaya pacaran sekarang yang terkadang cenderung sangat terbuka tidak tahu betapa memalukannya perilaku yang seharusnya tidak dipamerkan di tempat umum,fiuh,,trus apa lagi ya,, nge-trend.nya ‘nongkrong’ buat anak muda, lo gak bakal di bilang anak gaul gitu loch kalo loe gak nongkrong ama kita-kita (ckckckck,, >.<). Padahal kalau kita fikirkan daripada sekedar nongkrong gak jelas arahnya mau jurusan Surabaya atau Bandung ( hlooh :P) lebih baik kita melakukan hal yang lebih berguna, seperti ngerjain tugas kuliah atau baca buku ‘Notes from Qatar’.hehhehe sekalian promosi. Bukankah masa muda itu hanya sekali naf,,ya senang-senang aja dulu ntar kalo tua baru tobat,, ????? ya nggak gitu kale,justru masa muda itu harus kita penuhi dengan terus selalu berkarya,karena mumpung masih muda otak kita masih sanggup untuk berfikir,, hlohh naf emangnya kalau udah tua gak bisa mikir ya (???? Krik krik krik,, hehhe ) maksudnya anak muda itu pemikirannnya masih fresh dan tentunya diiringi idealisme yang kuat juga,, ( sok tahu NAF,,, )
Nah, come back again, this book is awesome. It’s make me some power in my mind to reach my dreams come true. Just like that !! :D dan yang paling membuat saya terkesan bahwa kekuatan sedekah itu sangat nyata sekali, seperti yang telah dialami penulis ( Mas Assad ) itu sendiri, rejeki itu datang dengan tiba-tiba yang terduga olah kita jika kita memmnag kenceng daam Sedekah. Hmmm,, saya ingat-ingat lagi apa yang telah saya lakukan, semoga bisa menjadi pribadi yang suka sedekah seperti beliau sehingga pintu rezeki pun akan datang dengan sangat mudah kepada kita,hehhehe
Yang gak kalah pentingnya penulis ( Mas Assad ) ini snaagt religius banget,terlihat dalam bukunya tidak pernah lupa mencantumkan ayat-ayat Al qur'an atau hadist Nabi, jadi sangat lengkap deh,, kita dapet ilmu agama di sini.Masih seputar novel tersebut, saya terkagum juga dengan penulis yang mengajarkan nilai bahwa kita itu tidak seharusnya mengejar untuk menjadi orang yang sukses tetapi menjadi manusia yang bernilai ‘man of value’. Jika kita analogikan selembar uang seratus ribu akan tetap menjadi seratus ribu apabila yang awalnya uang tersebut masih kinclong keluar dari mesin ATM kemudian kita remet-remet uang tersebut trus diinjak-injak sekalipun uang tersebut masih seratus ribu. Nah hal itu juga sama dengan manusia, nilai itu akan terus tetap menempel. So jadilah manusia yang mempunyai nilai ( tetapi bukan dalam rupiah ya,, :P). Selain itu nilai pantang menyerah yang diajarkan oleh penulis sangat mengena banget bagi saya, seperti kata “Quitter never win, Winner never quit”. Kata pantang menyerah sangat dijunjung tinggi oleh penulis karena jika tidak Mas Assad juga tidak akan sampai sekolah ke Malaysia.hehehe Nah itu tuh yang ingin saya contoh jangan menyerah ala d’massive ( tangan kiri nempel muka tangan kanan kedepan,, hahhahaha). Barakallu fik…
Sekian dari saya,, baru mau baca buku lagi tentang ‘5 cm’ karya Donny Dhirgantoro, ‘Semoga Bunda di Sayang Allah by Tere Liye. Semoga masih tetep lanjut nulis,, selamat menikmati weekend ceria teman-teman :D :D


ini nih cocer novelnya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar